![]() |
Buya Syafii Maarif |
"Agama dijadikan sebagai senjata politik, menyeret Tuhan ke dalam kebencian serta politik kotor pemilu. Ini sangat memprihatinkan dan sangat disesalkan," kata pria yang akrab disapa Buya Syafii itu, di sela bedah buku karyanya berjudul Krisis Arab dan Masa Depan Dunia Islam di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Jumat (1/3).
Buya juga menanggapi terkait puisi Neno Warisman saat Munajat 212 di Monas beberapa waktu lalu. Ia menyebut puisi itu biadab. "Itu puisi biadab, dalam bahasa Persia bi tidak dan adab tata krama, sopan santun. Dia membawa Tuhan ke Pemilu kan biadab," katanya.
Baca juga: Novel Bamukmin: Haram Coblos Nama Saya di PemiluBuya juga mengatakan, Neno tidak paham mengenai agama. Meski yang bersangkutan memakai jilbab, namun itu tidak menjadi jaminan. "Hanya pakai jilbab itu bukan jaminan dia ngerti agama," ucapnya.
Puisi Neno Warisman, dikatakannya memang doa Perang Badar. Saat tentara Islam 300 pasukan melawan tentara Quraisy yang berjumlah 200 ribu. Kemenangan tentara yang minoritas itu menang karena kualitasnya.
"Nabi berdoa waktu itu. Kalau kami kalah ya Allah mungkin tidak ada orang yang menyembah-Mu. Ini konteksnya itu, apakah Jokowi itu kafir, ya tidak to," katanya.
Lanjut Buya, masyarakat Indonesia diharapkan untuk sabar dalam berdemokrasi dengan menjaga persatuan bangsa dan negara. Pemilu hanya 5 tahun sekali, jangan sampai Indonesia menjadi hancur.
"Jangan terlalu serius menyikapi tahun politik ini apalagi jika hanya karena berbeda pilihan. Banyaknya berita hoax hingga ujaran kebencian dalam berpolitik ini mengartikan peradaban sedang merosot. Jangan terlalu serius lah, demokrasi itu melatih kita untuk bersabar," pungkasnya.
Sumber: jawapos.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar